Tuesday, October 16, 2012

Kerancuan Abangan..





Siapa kaum abangan itu ???
mungkin itu yang terbesit di dalam masyarakat awam tentang abangan jika di hadapkan pada pertanyaan siapa itu abangan.maka untuk mengurai itu penulis mencoba mengurai lewat beberapa teoritis Sosiologi ataupun Antropologi. Karl Marx yang menurut Marx, bahwa masyarakat di bagi menjadi dua kelas dan faktor ekonomi itulah yang menjadi indikator itu kepemilikan atas modal, sebab kontek masyarakat Marx adalah masyarakat industri. Mereka yang berpunya (modal) adalah kaum borjuis sebagai kelas atas, di sisi berseberangan adalah mereka para pekerjanya, buruhnya, kacungnya yang disebut proletar. dikotomi ini kemudian dianggap tidak tepat oleh Max Weber. weber dalam pemikirannya mencoba memberikan sebuah alternatif yaitu Trikotomi dimana dia memasukkan kelas menengah, yaitu bukan seorang pemilik modal tapi mempunyai suatu tingkatan seperti kelas pekerja, Siapa mereka ? jika kita beri sebuah penggambaran mungkin sosok manajer atau mandor bisa mewakilkan sosok menengah ini. baik dikotomi maupun trikotomi itu memang tepat jika dihadapkan pada kasus masyarakat industri, sementara jika dihadapkan pada masyarakat agraris bisa di bilang kurang relevan. maka dari itu kemudian saya mencoba mengulas intisari pemikiran dari clifford
Gertz dalam "Religion of Java" yang mengajukan suatu Trikotomi, yaitu kaum abangan, santri dan priyayi.pembedaan ini berdasarkan pada kelas yaitu kelas atas priyayi, menengah santri, dan bawah adalah abangan. Kelas bawah berarti ekonominya lemah, santri lebih baik dengan pekerjaan pedagang dan priyayi sebagai bangsawan dan pegawai. trikotomi itu kemudian memasukkan corak-corak agama dari tradisi mereka. kaum abangan sendiri adalah suatu kaum yang masih dominan melakukan tradisi jawa, meski mereka islam namun simbol-simbol islam sangat minim. sedangkan satri ialah kaum yang menggunakan simbol-simbol islam yang dominan mulai dari kitab berbahasa arab, haji dan tata cara berpakaian. sementara di pihak priyayi adalah Hindu. Pembedaan ini sebenarnya tidak mutlak, masih ada percampuran-percampuran misalnya ada juga priyayi yang beragama Islam. Namun dengan trikotomi ini dengan jelas bahwa kaum Abangan adalah kaum yang lemah, baik dari sisi ekonomi dan agama (muallaf).abangan sendiri didalam konteks budaya jawa dapat dirujuk pada suatu tahapan manusia yang lemah. sebagai bayi "merah".dalam populernya masih "pupuk bawang", seperti bawang meranh dan perlu bimbingan. itulah yang digambarkan oleh Clifford Gertz dalam "Religion Of Java" nya.
Penderitaan Abangan
Abangan menjadi populer lewat Geertz. dalam tahun 60-an. namun, istilah ini diperkosa oleh PKI yang menjadikan nya sebagai alat propaganda politik adu domba untuk mencari kekuasaan.seperti Marxis PKI memposisikan Abangan sebagai Proletar dan borjuis adalah musuh yang nyata bagi mereka. pertanyaanya siapakah borjuis itu ? maka yang paling jelas adalah para santri (pedagang) dan sekaligus para kyainya. karena merekalah yang akan menjadi tumpuan kelas menengah tersebut. sudah lemah dalam ekonomi abangan juga dieksploitasi untuk mejadi santri yang jelas-jelas selama ini hidup rukun didesa-desa.
berbeda dengan Soekarno yang mendekati Abangan dan mengambil jiwa. semangat yang tak pernah padam, kuat dalam kemiskinan dan terus berjuang untuk kehidupannya dan melahirkan sebuah ideologi Marhaenisme  Mereka kaum petani (abangan) adalah orang-orang yang setia pada profesinya, meski tidak menjadikan kaya tetapi tetap ditekuni demi mempertahankan hidup dan kehidupannya. lalu memasuki era Orba sekaitar tahun 80-90 an, setelah melwati fase pembangunan yang gencar dan pesat abangan sudah bergeser pengertiannya. Kemakmuran yang sudah mulai banyak, simbol-simbol agama Islam sudah dominan, lagi-lagi kaum abangan menjadi sasaran tembak dari sekelompok orang, dicap sebagai kaum kafir, kaum sesat. Di sini kaum abangan menjadi musuh dari Islam, berbeda dengan PKI yang menjadikannya alat. pada era Gus dur, mirip dengan soekarno berusaha tidak mendefinisakan abangan sebagai alat politik atau musuh. tapi abangan sebagai kaum marginal, baik di ekonomi dan agama (seperti yang dilakukan Geertz pada mulanya). 

Kaum minoritas menjadi kaum yang sering dibela oleh Gus Dur, meski dia harus berhadapan dengan rezim orde baru ataupun dari kalangan Islam sendiri. Gus Dur juga berusaha menciptakan idiom baru, Kyai Kampung sebagai representasi kaum santri yang peduli kepada kaum abangan. Bagaimanapun mereka yang masih lemah dan kurang sempurna keislamannya perlu didorong untuk mencapai kesempurnaan, dan itu akan berhasil jika tidak menjadikannya mereka musuh yang harus dihancurkan.
 Apakah memang demikian nasib kaum abangan, yang sudah jelas-jelas lemah hanya dijadikan alat politik dan amunisi permusuhan? Layakkah sebuah kefakiran, kemiskinan dijadikan pembenar bagi kita untuk memberi cap kepada mereka kafir dan harus masuk neraka? Sungguh malang benar nasib kaum abangan, dibantu tidak, tetapi hanya dimusuhi belaka. Apa mungkin mereka akan hormat dan mengikuti jalan mereka yang membenci dan memusuhinya???






Bintara, 17, Oktober, 2012

Monday, October 15, 2012

Pemikiran Max Weber




TEORI WEBER TENTANG MASYARAKAT
Menurut weber tipe ideal tentang tindakan-tindakan yang dipergunakan untuk menyusun gambaran-gambaran manusia individual adalah campuran khusus yang menyusun tingkah laku aktual mereka. Di antara kecenderungan-kecenderungan yang diidentifikasikan oleh Weber adalah keserakahan akan keuntungan dengan upaya yang minimum, gagasan bahwa kerja adalah kutuk dan beban yang harus dihindari, khususnya apabila hal itu melampaui apa yang secukupnya dibutuhkan untuk hidup yang sederhana. "Agar suatu cara hidup yang teradaptasi dengan baik dengan ciri-ciri khusus kapitalisme," Weber menulis, "dapat mendominasi yang lainnya, hidup itu harus dimulai di suatu tempat, dan bukan dalam diri individu yang terisolasi semata, melainkan sebagai suatu cara hidup yang lazim bagi keseluruhan kelompok manusia."
Weber membuat garis besar untuk 3 tipe ideal tatanan atau otoritas yang legitim. Otoritas tradisional yang berdasarkan pada peneriman aturan-aturan karena aturan-aturan telah lama ada dan dalam legitimasi mereka telah mewariskan hak untuk memerintah dengan aturan-aturan yang ada. Tatanan tradisional individu merasakan loyalitas masa lalu mereka yang mewakili masa lalu tersebut. Otoritas rasional atau legal.
Teori Weber pada dasarnya adalah tentang proses Rasionalisasi. Weber tertarik pada masalah umum seperti mengapa institusi sosial di dunia Barat berkembang semakin rasional sedangkan rintangan kuat tampaknya mencegah perkembangan serupa di belahan bumi lain.

Weber mengemukakan 10 ciri-ciri organisasi, yaitu:
  1. Suatu organisasi terdiri dari hubungan-hubungan yang ditetapkan antara jabatan-jabatan. Blok-blok bangunan dasar dari organisasi formal adalah jabatan-jabatan.
  2.  Tujuan atau rencana organisasi terbagi ke dalam tugas-tugas, tugas-tugas tersebut disalurkan di antara berbagai jabatan sebagai kewajiban resmi (job description).
  3. Kewenangan: melaksanakan kewajiban diberikan kepada jabatan (saat resmi menduduki sebuah jabatan).
  4. Garis kewenangan dan jabatan diatur menurut suatu tatanan hierarkhis.
  5. Sistem aturan dan regulasi yang umum tetapi tegas yang ditetapkan secara formal, mengatur tindakan-tindakan dan fungsi-fungsi jabatan dalam organisasi.
  6. Prosedur bersifat formal dan impersonal. Perlu adanya catatan tertulis demi kontinuitas, keseragaman (uniformitas), dan untuk maksud-maksud transaksi.
  7. Adanya prosedur untuk menjalankan disiplin anggota.
  8. Anggota organisasi harus memisahkan kehidupan pribadi dan kehidupan organisasi.
  9. Pegawai yang dipilih untuk bekerja berdasarkan kualifikasi teknis.
  10. Kenaikan jabatan berdasarkan senioritas dan prestasi kerja.
    Sebagai implikasinya, teori Weber pada komunikasi organisasi menunjukkan suatu fenomena yang disebut komunikasi jabatan (positional communication). Relasionalitas dibentuk antar jabatan, bukan antar individu. Teori ini juga termasuk dalam tradisi posisi rasional karena masih berada satu payung kajian mahzab klasik, selain teori empat sistem dari Likert.

Pentingnya distingsi-distingsi ini bisa dijelaskan dengan mencatat bahwa para penguasa sendiri harus tetap tinggal dalam batas-batas tatanan, kalau mereka mau tetap tinggal sebagai penguasa . dalam kasus otoritas karismatis sang pemimpin harus tetap membuktikan kemampuan-kemampuan luar biasanya.
Sementara bentuk legal dan tatanan tradisional relatif stabil dan konservatif, otoritas karismatis cenderung bersifat sementara dan revolusioner, tetapi karisma adalah sebuah sumber penting, nilai-nilai dan cita-cita yang atas dasar jenis-jenis tatanan lain, pemimpin karismatis dapat memunculkan hukum baru berdasarkan otoritasnya sendiri.
 Konsep kharismatik (charismatic) atau kharisma (charisma) menurut Weber (1947) lebih ditekankan kepada kemampuan pemimpin yang memiliki kekuatan luarbiasa dan mistis. Menurutnya, ada lima faktor yang muncul bersamaan dengan kekuasaan yang kharismatik, yaitu : Adanya seseorang yang memiliki bakat yang luarbiasa, adanya krisis sosial, adanya sejumlah ide yang radikal untuk memecahkan krisis tersebut, adanya sejumlah pengikut yang percaya bahwa seseorang itu memiliki kemampuan luarbiasa yang bersifat transendental dan supranatural, serta adanya bukti yang berulang bahwa apa yang dilakukan itu mengalami kesuksesan.
Banyak teoritisi melakukan penelitian tentang kekuasaan kharismatik (charismatic authority). House (1977) menyatakan bahwa prilaku pemimpin sangat berhubungan dengan kepemimpinan kharismatik, sifat-sifat personal dan variabel-variabel lain yang bersifat situasional. Meskipun ia melakukan penelitiannya pada hubungan diadik antara seorang pemimpin dan seorang pengikut, namun teori yang dipublikasikan dengan teori kepemimpinan kharismatik pada tahun 1976 itu memberikan andil besar pada pengembangan teori berikutnya.
Burn (1978) menyatakan bahwa ”kepemimpinan sebagai pemimpin dan pengikut yang melakukan tujuan-tujuan yang merepresentasikan nilai-nilai dan motivasi-motivasi dari mereka. Kepemimpinan kharismatik memberikan gerak kepada pemimpin untuk melakukan dan menerapkan kepemimpinannya sesuai dengan nilai-nilai dan motivasi para pengikutnya”. Sedangkan Conger dan Kanungo (1998) menyatakan bahwa kepemimpinan kharismatik didasarkan atas prilaku dan penerimaan dari pengikutnya sebagai pemimpin yang kharismatik. Menurutnya ada lima dimensi prilaku yang harus dimiliki seorang pemimpin kharismatik, yaitu : peduli terhadap konsteks lingkungannya, memiliki strategi dan artikulasi visi, peduli terhadap kebutuhan pengikutnya, memiliki personal risk, serta memiliki prilaku yang tidak konvensional.
Weber berpendapat, pengaruh yang luar biasa pada tilikan-tilikan dan cita-cita individu khusus dan gerakan sejarah, menurut arah dan perkembangan masyarakat. Untu k memiliki pengaruh pada tilikan dan cita-cita yang harus disaturagakan dalam bentuk tatanan yang mapan melalui proses rutinisasi, sebuah tahap menentukan dalam karisma sang pemimpin. Apapun metode yang dipakai sentralnya, kualitas pribadi sang pemimpin dipadukan dengan konsep tradisional tertentu yang mencakup administrasi patrimonial,
            Dengan melukiskan ketiga tipe ideal, Weber dapat memperkembangkan tipe ideal pengelompokan-pengelompokan sosial yang menyeluruh yang kemudian dapat digunakan untuk mencirikan masyarakat-masyarakat konkrit menurut sejarah, sehingga membuat pola-pola kegiatan dari masyarakat-masyarakat tersebut.
            Weber membedakan hubungan-hubungan social yang terbuka dalam arti orang-orang biasa masuk dalam hubungan dan menjadi partisipan-partisipan dan hubungan-hubungan sosial yang tertutup yang berarti hubungan-hubungan itu merupakan bagian sebjektif sehingga mengecualikan orang.
            Tipe idealnya untuk membedakan beberapa macam pengelompokan social dapat didefinisikan sebuah kelompok korporat, sebagai kelompok tertutup. Kelompok-kelompok politisi adalah kelompok yang tata tertibnya bersifat efektif dalam wilayah pemakaian dan paksaan oleh staf administratif. Kelompok korporat, religius bersifat hierokratis.
            Susunan klasifikasi formal yang disusun Weber mengenai analisis-analisis tentang organisasi sosial, ketika klasifikasi itu diterapkan pada fenomena sosial sesungguhnya dapat bermakna tersendiri pada status suatu perlawanan dengan kelas ekonomi dalam pembentukan kelompok social khususnya kelompok-kelompok yang berdasarkan agama yang memberi tempat sentral untuk penjelasan-penjelasan sosiologinya sebagai bentuk kegiatan rasional.
Weber melihat birokrasi sebagai contoh klasik dari rasionalisasi, dan memasukkan diskusinya mengenai proses birokratisasi ke dalam diskusi yang lebih luas tentang lembaga politik. Weber membedakan tiga jenis system otoritas yaitu tradisional, karismatik dan rasional-legal. Sistem otoritas rasional-legal hanya dapat berkembang dalam masyarakat Barat Modern dan hanya dalam sistem itulah birokrasi tersebut dapat berkembang penuh. Masyarakat di belahan dunia lain masih didominasi sistem otoritas tradisional ataupun karismatik yang merupakan rintangan perkembangan sistem hukum rasional dan birokrasi modern.
Weber juga membuat analisis rinci tentang mengapa sistem ekonomi rasional yang berkembang di dunia barat, gagal berkembang di belahan dunia lain. Dalam hal ini, Weber mengakui peran sentral agama, dimana dia di satu sisi terlibat dialog dengan Marxis untuk menunjukan bahwa agama bukanlah sebuah epifenomena semata melainkan agama telah memainkan peran kunci dalam pertumbuhan kapitalisme di Barat, tetapi gagal di masyarakat belahan dunia yang lain. Weber menegaskan, sistem agama rasionallah (Calvinisme) yang berperan sentral dalam pertumbuhan kapitalisme di Barat. Tapi dibelahan dunia lain, Weber mengkaji dan menemukan sistem agama yang irrasional yang merintangi perkembangan sistem ekonomi rasional, walaupun pada akhirnya rintangan tersebut hanya untuk sementara karena sistem ekonomi bahkan seluruh struktur sosial masyarakat akan menjadi rasional.

Farhan Mubina
Jonggol, 16, Oktober, 2012