Kutuliskan catatan ini
ditengah jeritan dan tangis rakyat Indonesia
Yang pada saat ini dan entah sampai kapan terbelenggu oleh rasa perih dan terzhalimi
Sampai kapankah kita masih menutup mata hati kita
Tak ada artinya bila hanya lewat kata-kata
Karena kalimat-kalimat penyesalan dan dendam berkepanjangan
Takkan mengurangi penderitaan mereka
Wahai kawan,
Di negeri yang kaya, indah dan hijau ini
Sepotong tanah surga yang diturunkan kebumi
Tapi, taukah engkau?
Ribuan petani terusir dari sawah ladangnya
Orang-orang tak berdaya saat rumahnya dirobohkan dan diratakan
Para pencari nafkah yang digusur dari lapak mereka
Di negeri ini, Kemanusiaan dan Keadlian telah drendahkan dan diinjak-injak
Oleh bahasa pembangunan.
Sesak rasanya paru-paru ini bagaikan tertimbun debu dan pasir
Melihat para badut kekuasaan menipu bangsanya sendiri di koran dan televisi
Padahal diluar sana orang-orang miskin yang tak berdaya dan lapar
Balita-balita yang kurus kering kurang gizi
Menderita dan mati dengan perut kosong
Tak lagi menjadi berita duka
Karena ucapan bela sungkawa bukanlah untuk jutaan orang tanpa nama
Kemanakah kalian wahai bangsa indonesia?
Tidakah kalian lihat
DI Sudut terminal, stasiun dan perempatan jalan
Anak-anak kecil berbaju lusuh yang menatapmu dengan tatapan kosong penuh harap
Jasad mereka memang belum mati
Tapi impian dan masa depan mereka telah lama mati
Sama matinya dengan kepedulian dan rasa empati orang-orang dinegeri ini
Maka pada setiap tarikan nafasmu Wahai kawan......
Hembuskanlah satu kata tentang keadilan
Dan sampai nafasmu terakhirmu
Jangan pernah berhenti...
Bekasi, 10 Juni 2009
Yang pada saat ini dan entah sampai kapan terbelenggu oleh rasa perih dan terzhalimi
Sampai kapankah kita masih menutup mata hati kita
Tak ada artinya bila hanya lewat kata-kata
Karena kalimat-kalimat penyesalan dan dendam berkepanjangan
Takkan mengurangi penderitaan mereka
Wahai kawan,
Di negeri yang kaya, indah dan hijau ini
Sepotong tanah surga yang diturunkan kebumi
Tapi, taukah engkau?
Ribuan petani terusir dari sawah ladangnya
Orang-orang tak berdaya saat rumahnya dirobohkan dan diratakan
Para pencari nafkah yang digusur dari lapak mereka
Di negeri ini, Kemanusiaan dan Keadlian telah drendahkan dan diinjak-injak
Oleh bahasa pembangunan.
Sesak rasanya paru-paru ini bagaikan tertimbun debu dan pasir
Melihat para badut kekuasaan menipu bangsanya sendiri di koran dan televisi
Padahal diluar sana orang-orang miskin yang tak berdaya dan lapar
Balita-balita yang kurus kering kurang gizi
Menderita dan mati dengan perut kosong
Tak lagi menjadi berita duka
Karena ucapan bela sungkawa bukanlah untuk jutaan orang tanpa nama
Kemanakah kalian wahai bangsa indonesia?
Tidakah kalian lihat
DI Sudut terminal, stasiun dan perempatan jalan
Anak-anak kecil berbaju lusuh yang menatapmu dengan tatapan kosong penuh harap
Jasad mereka memang belum mati
Tapi impian dan masa depan mereka telah lama mati
Sama matinya dengan kepedulian dan rasa empati orang-orang dinegeri ini
Maka pada setiap tarikan nafasmu Wahai kawan......
Hembuskanlah satu kata tentang keadilan
Dan sampai nafasmu terakhirmu
Jangan pernah berhenti...
Bekasi, 10 Juni 2009
No comments:
Post a Comment