Tak
terasa sekarang telah memasuki Bulan Dzulhizah. Bulan dimana umat islam yang
mampu mempunyai kesempatan untuk menjalankan Rukun Islam ke-5. Haji disertai
dengan ritual-ritual tertentu yang diperintahkan oleh Allah SWT lewat contoh
Muhammad SAW. Tentu kita mungkin di
dalam hati bertanya-tanya tentang haji ? mengutip sebuah kata pendahuluan buku
Dr.Ali Syariati yang diterjemahkan oleh DR Ali Syariati pada halaman
pembukaan buku karyanya Hajj (The Pilgrimage)
yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Penerbit Zahra menjadi Makna
Haji. Pada hakikatnya, ibadah haji adalah evolusi manusia menuju
Allah. Ibadah haji merupakan sebuah demonstrasi simbolis dan falsafah
penciptaan Adam. Gambaran selanjutnya, pelaksanaan ibadah haji dapat dikatakan
sebagai suatu pertunjukan banyak hal secara serempak. Ibadah haji adalah sebuah
pertunjukan tentang ‘penciptaan’, ‘sejarah’, ‘keesaan’, ‘ideologi Islam’, dan
‘ummah’.
Tulisan
Dr.Syariati pada pembukaan diatas dan kemudian dilanjutkan dengan Ilustarsi
yang Rasional. Menurut Syariati, “Allah adalah Sutradara. Tema yang di
ciptakannya ialah tindakan orang-orang yang terlibat, pemeran utama terdiri
dari Adam, Ibrahim, Hajar, dan Setan. Lokasi kejadiaanya ialah Masjid al-Haram,
daerah Haram, Nas’a, Arafah, padang Masy’ar dan Mina. Simbol-simbol yang
penting adalah Ka’bah, Shafa, Marwah, siang, malam, matahari terbit, matahari
terbenam, berhala dan upacara kurban. Pakaian dan make up-nya adalah
ihram, halgh dan taqshir (mencukur sebagian rambut kepala). Dan
yang paling terakhir adalah peran-peran dalam pertunjukkan ini adalah hanya
seseorang, yaitu dirimu sendiri. Dijelaskan pula di dalam ritual ibadah haji
semua bangsa tak peduli SARA adalah actor penting di dalam Pagelaran ini. Yang dimana
kita berperan sebagai. Adam, Ibrahim dan Hajar dalam Konfrontasi antara ‘Allah
dengan Setan’.
Haji
dalam pemahaman Syariati adalah sebuah kepulangan Manusia kepada Allah Yang
Mutlak.yang dimana tidak memiliki sebuah keterbatasan dan yang tidak dapat
dipadankan oleh hal apapun. Kepulangan itu sendiri dalam pandanganya adalah
sebuah gerak menuju suatu kesempurnaan, kebaikan, keindahan, pengetahuan,
nilai, dan fakta. Dengan melakukan suatu perjalanan yang berujung pada
keabadian ini, pada dasarnya tujuan manusia ialah bukan untuk binasa melainkan
berkembang dan tujuan ini bukan untuk Allah melainkan untuk mendekatkan diri
kita kepada-Nya. Makna tersebut dipraktikkan dalam pelaksanaan ibadah haji,
dalam acara-acara ritual, atau dalam tuntunan non ritualnya, dalam bentuk
kewajiban atau larangan, nyata atau simbolik.
Semua
itu pada akhirnya kemudian mengantarkan sesuatu pada ke-Universalan dengan
Nilai-nilai kemanusiaan. Ihram yang dikenakan menurutnya ialah perlambang pola,
prefensi, status, dan perbedaan-perbedaan tertentu. “Tak dapat disangkal bahwa
pakaian pada kenyataannya dan juga menurut Al-Quran berfungsi sebagai pembeda
antara seseorang atau satu kelompok dengan lainnya,” tulis Syariati.
Syariati
berpendapat bahwa pembedaan tersebut dapat mengantar kepada perbedaan status
sosial, ekonomi atau profesi. Pakaian juga dapat memberi pengaruh psikologis
pada pemakainya. Di Miqat, tempat ritual ibadah haji dimulai, perbedaan
tersebut harus ditanggalkan. Semua harus memakai pakaian yang sama.
Pengaruh-pengaruh psikologis dari pakaian harus ditanggalkan. Semua merasa
dalam satu kesatuan dan persamaan.
Dalam miqat
ini, SARA harus dilepaskan tak terkecuali pakaian yang dikenakan sehari-hari yang
membedakan sebagai serigala (yang melambangkan kekejaman dan penindasan), tikus
(yang melambangkan kelicikan), anjing (yang melambangkan tipu daya), atau domba
(yang melambangkan penghambaan) harus ditinggalkan. Di Miqat, dengan mengenakan
dua helai pakaian berwarna putih-putih, sebagaimana yang akan membalut tubuh
manusia ketika ia mengakhiri perjalanan hidup di dunia ini, seorang yang
melaksanakan ibadah haji akan merasakan jiwanya dipengaruhi oleh pakaian ini.
“Ia akan merasakan kelemahan dan keterbatasannya, serta pertanggungjawaban yang
akan ditunaikannya kelak di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa,” tandas
Syariati
Selanjutnya,
Ka’bah yang dikunjungi di tengah-tengah Masjidil Haram, dalam pemahaman
Syariati mengandung pelajaran yang amat berharga dari segi kemanusiaan. Di sana
terdapat Hijr Ismail yang arti harfiahnya pangkuan Ismail. Ali syariati secara
tersirat menunjukkan kepada kita bahwa haji bukanlah sekadar prosesi lahiriah
formal belaka, melainkan sebuah momen revolusi lahir dan batin untuk mencapai
kesejatian diri sebagi manusia. Dengan kata lain, orang yang sudah berhaji
haruslah menjadi manusia yang “tampil beda” (lebih lurus hidupnya) dibanding
sebelumnya. Bukan malah berhaji dan pulan dengan sikap yang lebih buruk sebelum
berangkat. Dan ini adalah kemestian. Kalau tidak, sesungguhnya kita hanyalah
wisatawan yang berlibur ke tanah suci di musim haji, tidak lebih!
(Bintara, 15,Oktober,2012)

No comments:
Post a Comment