TEORI WEBER TENTANG MASYARAKAT
Menurut weber tipe ideal tentang tindakan-tindakan yang
dipergunakan untuk menyusun gambaran-gambaran manusia individual adalah campuran khusus yang
menyusun tingkah laku aktual mereka. Di antara kecenderungan-kecenderungan yang
diidentifikasikan oleh Weber adalah keserakahan akan keuntungan dengan upaya
yang minimum, gagasan bahwa kerja adalah kutuk dan beban yang harus dihindari,
khususnya apabila hal itu melampaui apa yang secukupnya dibutuhkan untuk hidup
yang sederhana. "Agar suatu cara hidup yang teradaptasi dengan baik dengan
ciri-ciri khusus kapitalisme," Weber menulis, "dapat mendominasi yang
lainnya, hidup itu harus dimulai di suatu tempat, dan bukan dalam diri individu
yang terisolasi semata, melainkan sebagai suatu cara hidup yang lazim bagi
keseluruhan kelompok manusia."
Weber membuat garis besar untuk 3 tipe ideal tatanan atau
otoritas yang legitim. Otoritas tradisional yang berdasarkan pada peneriman
aturan-aturan karena aturan-aturan telah lama ada dan dalam legitimasi mereka
telah mewariskan hak untuk memerintah dengan aturan-aturan yang ada. Tatanan
tradisional individu merasakan loyalitas masa lalu mereka yang mewakili masa
lalu tersebut. Otoritas rasional atau legal.
Teori Weber pada dasarnya adalah tentang proses
Rasionalisasi. Weber tertarik pada masalah umum seperti mengapa institusi
sosial di dunia Barat berkembang semakin rasional sedangkan rintangan kuat
tampaknya mencegah perkembangan serupa di belahan bumi lain.
Weber
mengemukakan 10 ciri-ciri organisasi, yaitu:
- Suatu organisasi terdiri dari hubungan-hubungan yang ditetapkan antara jabatan-jabatan. Blok-blok bangunan dasar dari organisasi formal adalah jabatan-jabatan.
- Tujuan atau rencana organisasi terbagi ke dalam tugas-tugas, tugas-tugas tersebut disalurkan di antara berbagai jabatan sebagai kewajiban resmi (job description).
- Kewenangan: melaksanakan kewajiban diberikan kepada jabatan (saat resmi menduduki sebuah jabatan).
- Garis kewenangan dan jabatan diatur menurut suatu tatanan hierarkhis.
- Sistem aturan dan regulasi yang umum tetapi tegas yang ditetapkan secara formal, mengatur tindakan-tindakan dan fungsi-fungsi jabatan dalam organisasi.
- Prosedur bersifat formal dan impersonal. Perlu adanya catatan tertulis demi kontinuitas, keseragaman (uniformitas), dan untuk maksud-maksud transaksi.
- Adanya prosedur untuk menjalankan disiplin anggota.
- Anggota organisasi harus memisahkan kehidupan pribadi dan kehidupan organisasi.
- Pegawai yang dipilih untuk bekerja berdasarkan kualifikasi teknis.
- Kenaikan
jabatan berdasarkan senioritas dan prestasi kerja.
Sebagai implikasinya, teori Weber pada komunikasi organisasi menunjukkan suatu fenomena yang disebut komunikasi jabatan (positional communication). Relasionalitas dibentuk antar jabatan, bukan antar individu. Teori ini juga termasuk dalam tradisi posisi rasional karena masih berada satu payung kajian mahzab klasik, selain teori empat sistem dari Likert.
Pentingnya distingsi-distingsi ini bisa dijelaskan dengan
mencatat bahwa para penguasa sendiri harus tetap tinggal dalam batas-batas
tatanan, kalau mereka mau tetap tinggal sebagai penguasa . dalam kasus otoritas
karismatis sang pemimpin harus tetap membuktikan kemampuan-kemampuan luar
biasanya.
Sementara bentuk legal dan tatanan tradisional relatif
stabil dan konservatif, otoritas karismatis cenderung bersifat sementara dan
revolusioner, tetapi karisma adalah sebuah sumber penting, nilai-nilai dan cita-cita
yang atas dasar jenis-jenis tatanan lain, pemimpin karismatis dapat memunculkan
hukum baru berdasarkan otoritasnya sendiri.
Konsep kharismatik (charismatic) atau kharisma
(charisma) menurut Weber (1947) lebih ditekankan kepada kemampuan
pemimpin yang memiliki kekuatan luarbiasa dan mistis. Menurutnya, ada lima
faktor yang muncul bersamaan dengan kekuasaan yang kharismatik, yaitu : Adanya
seseorang yang memiliki bakat yang luarbiasa, adanya krisis sosial, adanya
sejumlah ide yang radikal untuk memecahkan krisis tersebut, adanya sejumlah
pengikut yang percaya bahwa seseorang itu memiliki kemampuan luarbiasa yang
bersifat transendental dan supranatural, serta adanya bukti yang berulang bahwa
apa yang dilakukan itu mengalami kesuksesan.
Banyak teoritisi melakukan penelitian tentang kekuasaan
kharismatik (charismatic authority). House (1977) menyatakan bahwa
prilaku pemimpin sangat berhubungan dengan kepemimpinan kharismatik,
sifat-sifat personal dan variabel-variabel lain yang bersifat situasional.
Meskipun ia melakukan penelitiannya pada hubungan diadik antara seorang
pemimpin dan seorang pengikut, namun teori yang dipublikasikan dengan teori
kepemimpinan kharismatik pada tahun 1976 itu memberikan andil besar pada
pengembangan teori berikutnya.
Burn (1978) menyatakan bahwa ”kepemimpinan sebagai pemimpin
dan pengikut yang melakukan tujuan-tujuan yang merepresentasikan nilai-nilai
dan motivasi-motivasi dari mereka. Kepemimpinan kharismatik memberikan gerak
kepada pemimpin untuk melakukan dan menerapkan kepemimpinannya sesuai dengan
nilai-nilai dan motivasi para pengikutnya”. Sedangkan Conger dan Kanungo (1998)
menyatakan bahwa kepemimpinan kharismatik didasarkan atas prilaku dan
penerimaan dari pengikutnya sebagai pemimpin yang kharismatik. Menurutnya ada lima
dimensi prilaku yang harus dimiliki seorang pemimpin kharismatik, yaitu :
peduli terhadap konsteks lingkungannya, memiliki strategi dan artikulasi visi,
peduli terhadap kebutuhan pengikutnya, memiliki personal risk, serta memiliki
prilaku yang tidak konvensional.
Weber berpendapat, pengaruh yang luar biasa pada
tilikan-tilikan dan cita-cita individu khusus dan gerakan sejarah, menurut arah
dan perkembangan masyarakat. Untu k memiliki pengaruh pada tilikan dan
cita-cita yang harus disaturagakan dalam bentuk tatanan yang mapan melalui
proses rutinisasi, sebuah tahap menentukan dalam karisma sang pemimpin. Apapun
metode yang dipakai sentralnya, kualitas pribadi sang pemimpin dipadukan dengan
konsep tradisional tertentu yang mencakup administrasi patrimonial,
Dengan melukiskan ketiga tipe ideal, Weber dapat memperkembangkan tipe ideal
pengelompokan-pengelompokan sosial yang menyeluruh yang kemudian dapat
digunakan untuk mencirikan masyarakat-masyarakat konkrit menurut sejarah,
sehingga membuat pola-pola kegiatan dari masyarakat-masyarakat tersebut.
Weber membedakan hubungan-hubungan social yang terbuka dalam arti orang-orang
biasa masuk dalam hubungan dan menjadi partisipan-partisipan dan
hubungan-hubungan sosial yang tertutup yang berarti hubungan-hubungan itu
merupakan bagian sebjektif sehingga mengecualikan orang.
Tipe idealnya untuk membedakan beberapa macam pengelompokan social dapat
didefinisikan sebuah kelompok korporat, sebagai kelompok tertutup.
Kelompok-kelompok politisi adalah kelompok yang tata tertibnya bersifat efektif
dalam wilayah pemakaian dan paksaan oleh staf administratif. Kelompok korporat,
religius bersifat hierokratis.
Susunan klasifikasi formal yang disusun Weber mengenai analisis-analisis
tentang organisasi sosial, ketika klasifikasi itu diterapkan pada fenomena
sosial sesungguhnya dapat bermakna tersendiri pada status suatu perlawanan
dengan kelas ekonomi dalam pembentukan kelompok social khususnya
kelompok-kelompok yang berdasarkan agama yang memberi tempat sentral untuk
penjelasan-penjelasan sosiologinya sebagai bentuk kegiatan rasional.
Weber melihat birokrasi sebagai contoh klasik dari
rasionalisasi, dan memasukkan diskusinya mengenai proses birokratisasi ke dalam
diskusi yang lebih luas tentang lembaga politik. Weber membedakan tiga jenis
system otoritas yaitu tradisional, karismatik dan rasional-legal. Sistem
otoritas rasional-legal hanya dapat berkembang dalam masyarakat Barat Modern
dan hanya dalam sistem itulah birokrasi tersebut dapat berkembang penuh.
Masyarakat di belahan dunia lain masih didominasi sistem otoritas tradisional
ataupun karismatik yang merupakan rintangan perkembangan sistem hukum rasional
dan birokrasi modern.
Weber juga membuat analisis rinci tentang mengapa sistem
ekonomi rasional yang berkembang di dunia barat, gagal berkembang di belahan
dunia lain. Dalam hal ini, Weber mengakui peran sentral agama, dimana dia di
satu sisi terlibat dialog dengan Marxis untuk menunjukan bahwa agama bukanlah
sebuah epifenomena semata melainkan agama telah memainkan peran kunci dalam
pertumbuhan kapitalisme di Barat, tetapi gagal di masyarakat belahan dunia yang
lain. Weber menegaskan, sistem agama rasionallah (Calvinisme) yang
berperan sentral dalam pertumbuhan kapitalisme di Barat. Tapi dibelahan dunia
lain, Weber mengkaji dan menemukan sistem agama yang irrasional yang merintangi
perkembangan sistem ekonomi rasional, walaupun pada akhirnya rintangan tersebut
hanya untuk sementara karena sistem ekonomi bahkan seluruh struktur sosial
masyarakat akan menjadi rasional.
Farhan
Mubina
Jonggol, 16,
Oktober, 2012

No comments:
Post a Comment